Tes Stroop

04 / 07

Stroop dalam Tes Neuropsikologis — Apa yang Bisa dan Tidak Bisa Dilihat

Susunan dan kegunaan tes Stroop klinis seperti versi Golden, versi Victoria, dan D-KEFS, serta alasan mengapa satu skor saja tidak bisa dipakai untuk diagnosis. Situs ini bukan alat diagnosis.

Di luar laboratorium, tugas Stroop sudah lama dipakai dalam asesmen neuropsikologis klinis. Namun, tes di situs ini bukan tes terstandar dan tidak dapat mendiagnosis maupun menyingkirkan penyakit apa pun. Berikut adalah informasi umum tentang cara tes klinis digunakan.

Tes Stroop klinis yang umum

  • Stroop Color and Word Test (versi Golden) — Versi yang disusun oleh Golden (1978). Tes ini menghitung berapa banyak butir yang dapat diselesaikan dalam 45 detik pada masing-masing dari tiga halaman: membaca kata warna, menyebutkan warna, dan menyebutkan warna kata yang tidak sesuai.
  • Victoria Stroop Test — Versi singkat yang dipakai di University of Victoria, Kanada, dengan tiga kartu — titik, kata umum, dan kata warna — masing-masing berisi 24 butir. Cara pelaksanaan dan datanya dimuat dalam kompendium tes neuropsikologis (Strauss, Sherman & Spreen, 2006).
  • D-KEFS Color-Word Interference Test — Versi yang termasuk dalam rangkaian tes fungsi eksekutif Delis, Kaplan & Kramer (2001). Selain kondisi dasar, tes ini memiliki kondisi inhibisi/peralihan yang aturannya berubah.

Sebagian besar tes ini memakai respons suara, dan pemeriksa terlatih mengukur waktu serta mencatat kesalahan. Hasilnya kemudian ditafsirkan dengan membandingkannya dengan norma berdasarkan usia dan tingkat pendidikan.

Apa yang ingin dilihat

Secara klinis, tes Stroop terutama dipakai untuk menilai kontrol inhibisi (kemampuan menahan respons yang muncul dengan sendirinya), perhatian selektif, dan kecepatan pemrosesan. Tes ini sering menjadi bagian dari rangkaian asesmen fungsi eksekutif dan telah dipakai dalam penelitian tentang berbagai kondisi, seperti cedera otak, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), serta demensia.

Mengapa satu skor tidak bisa dipakai untuk diagnosis

  • Berbagai kemampuan bercampur — Lambat menyebutkan warna bisa jadi masalah inhibisi, tetapi bisa juga sekadar masalah kecepatan pemrosesan, penglihatan, atau penglihatan warna. Karena itu tes-tes ini mengukur kondisi dasar seperti membaca dan menyebutkan warna secara terpisah untuk dibandingkan.
  • Kemampuan membaca dan pendidikan — Orang yang kurang terbiasa membaca memproses kata kurang otomatis, sehingga interferensinya justru bisa tampak lebih kecil.
  • Tidak spesifik untuk penyakit tertentu — Hasil interferensi yang besar bisa muncul pada berbagai kondisi, sehingga tidak dengan sendirinya menunjuk penyakit tertentu. Kelelahan, kecemasan, atau kurang tidur saja sudah bisa mengubahnya.
  • Reliabilitas skor selisih — Skor yang dibuat dari selisih dua kondisi, seperti interferensi, memang jelas pada rata-rata kelompok, tetapi ada kritik bahwa skor ini sulit mengukur perbedaan individu secara stabil (Hedge, Powell & Sumner, 2018).

Karena itu, penilaian klinis dibuat melalui tafsiran tenaga ahli yang menggabungkan wawancara, berbagai tes, riwayat kesehatan, dan fungsi sehari-hari.

Perbedaan situs ini dengan tes klinis

AspekTes klinisSitus ini
PelaksanaanPemeriksa terlatih, prosedur bakuMandiri, berbeda tiap perangkat
ResponsUmumnya suaraTombol dan keyboard
PengukuranWaktu atau jumlah butir per halaman (kartu)Waktu reaksi per percobaan (ms)
TafsiranNorma berdasarkan usia dan pendidikanTanpa norma, bandingkan dengan riwayat sendiri

Jika Anda merasakan perubahan yang mengkhawatirkan, misalnya tiba-tiba sulit berkonsentrasi atau daya ingat terasa berubah, jangan menilainya dari hasil tes online; konsultasikan dengan tenaga kesehatan profesional.

Daftar pustaka

Golden, C. J. (1978). Stroop Color and Word Test: A manual for clinical and experimental uses. Stoelting.

Delis, D. C., Kaplan, E., & Kramer, J. H. (2001). Delis-Kaplan Executive Function System (D-KEFS). The Psychological Corporation.

Strauss, E., Sherman, E. M. S., & Spreen, O. (2006). A Compendium of Neuropsychological Tests (3rd ed.). Oxford University Press.

Hedge, C., Powell, G., & Sumner, P. (2018). The reliability paradox: Why robust cognitive tasks do not produce reliable individual differences. Behavior Research Methods, 50(3), 1166–1186.

Coba tesnya →