02 / 07
Mengapa Interferensi Stroop Terjadi — Kecepatan Pemrosesan, Otomatisitas, dan Perhatian Selektif
Setelah melihat sebuah kata, mengabaikan artinya itu sulit. Teori-teori yang menjelaskan interferensi Stroop — kecepatan pemrosesan relatif, otomatisitas, model pemrosesan terdistribusi paralel, hingga pemantauan konflik — beserta keterbatasannya.
Mengabaikan arti kata yang sedang Anda lihat ternyata lebih sulit daripada kedengarannya. Teori yang menjelaskan interferensi Stroop terbagi menjadi empat kelompok besar. Tidak ada satu pun yang menang mutlak; masing-masing menjelaskan sisi berbeda dari fenomena ini dengan baik.
1. Teori kecepatan pemrosesan relatif
Teori ini berangkat dari pengamatan lama. Cattell (1886) melaporkan bahwa orang membaca kata lebih cepat daripada menyebutkan nama warna. Teori kecepatan pemrosesan memandang kedua informasi itu “berlomba” menuju tahap respons. Karena informasi kata tiba lebih dulu, untuk menyebutkan warna Anda harus menahan respons kata yang sudah tiba, dan waktu itulah yang menjadi interferensi. Warna tiba belakangan sehingga hampir tidak mengganggu pembacaan kata. Penjelasan ini cocok dengan asimetri dalam makalah asli.
Namun, keterbatasannya juga jelas. Dunbar & MacLeod (1984) menunjukkan bahwa meskipun huruf dibalik atau ditulis terbalik sehingga membaca kata menjadi lebih lambat daripada menyebutkan warna, interferensi tetap ada. Artinya, kecepatan saja tidak cukup untuk menjelaskannya.
2. Teori otomatisitas
Bagi pembaca yang terampil, membaca adalah proses otomatis yang terjadi bahkan tanpa niat (Posner & Snyder, 1975; Shiffrin & Schneider, 1977). Menyebutkan warna adalah proses terkendali yang memerlukan perhatian, sehingga arti kata yang muncul dengan sendirinya menyela dan menimbulkan interferensi. Penjelasan ini cocok dengan fakta bahwa interferensi makin besar saat anak belajar membaca, dan kecil pada kata dalam bahasa asing yang kurang dikenal.
Namun, membaca tidak sepenuhnya otomatis. Besner, Stolz & Boutilier (1997) melaporkan bahwa jika hanya satu huruf yang diwarnai, bukan seluruh kata, interferensi berkurang drastis. Ini bukti bahwa proses otomatis pun bisa melemah tergantung ke mana perhatian diarahkan.
3. Model pemrosesan terdistribusi paralel
Cohen, Dunbar & McClelland (1990) memodelkan jalur kata dan jalur warna sebagai jaringan saraf. Jalur kata yang sudah sangat terlatih memiliki koneksi kuat, sedangkan jalur warna lemah. Tujuan tugas “sebutkan warna” memperkuat jalur warna, tetapi aktivasi jalur kata yang kuat tidak pernah padam sepenuhnya sehingga interferensi tetap ada. Dalam satu kerangka, model ini menjelaskan asimetri, efek latihan, dan gagasan bahwa otomatisitas adalah soal tingkatan, bukan “ada/tidak ada”.
4. Perhatian selektif dan pemantauan konflik
Penelitian terbaru memandang interferensi sebagai masalah kontrol kognitif. Contoh utamanya adalah teori pemantauan konflik: otak mendeteksi “konflik” ketika dua respons bertabrakan, lalu menanggapinya dengan mempertahankan tujuan tugas dan menekan informasi pengganggu (Botvinick dkk., 2001). Penelitian pencitraan otak melaporkan bahwa korteks singulat anterior berperan dalam mendeteksi konflik, sedangkan korteks prefrontal dorsolateral berperan dalam mempertahankan tujuan dan menjalankan kontrol (MacDonald dkk., 2000).
Sudut pandang ini menjelaskan pengaruh urutan percobaan dengan baik. Interferensi cenderung lebih kecil tepat setelah percobaan inkongruen (Gratton, Coles & Donchin, 1992), yang ditafsirkan sebagai konflik barusan meningkatkan kontrol. Selain itu dikenal pula efek proporsi kongruen: makin banyak percobaan kongruen secara keseluruhan, makin besar interferensinya (Logan & Zbrodoff, 1979, dan lain-lain).
Di tahap mana interferensi terjadi
Apakah interferensi terjadi di tahap semantik, saat arti kata diproses, atau di tahap respons, saat memilih tombol yang akan ditekan, juga merupakan perdebatan lama. Saat ini banyak yang berpendapat bahwa interferensi terjadi di kedua tahap. Klein (1964) melaporkan bahwa kata yang berkaitan dengan warna meskipun bukan kata warna (kata seperti “api” atau “langit”) menimbulkan interferensi lemah, sedangkan kata yang tidak berkaitan dengan warna menimbulkan interferensi yang lebih kecil lagi. Artinya, makin dekat maknanya dengan warna, makin besar gangguannya.
Inilah juga alasan kondisi netral di situs ini memakai deretan huruf tanpa makna (XXXX). Jika stimulus netral memiliki sedikit saja makna yang berkaitan dengan warna, garis dasar pembanding menjadi goyah.
Daftar pustaka
Cattell, J. M. (1886). The time it takes to see and name objects. Mind, 11(41), 63–65.
Dunbar, K., & MacLeod, C. M. (1984). A horse race of a different color: Stroop interference patterns with transformed words. Journal of Experimental Psychology: Human Perception and Performance, 10(5), 622–639.
Besner, D., Stolz, J. A., & Boutilier, C. (1997). The Stroop effect and the myth of automaticity. Psychonomic Bulletin & Review, 4(2), 221–225.
Cohen, J. D., Dunbar, K., & McClelland, J. L. (1990). On the control of automatic processes: A parallel distributed processing account of the Stroop effect. Psychological Review, 97(3), 332–361.
Botvinick, M. M., Braver, T. S., Barch, D. M., Carter, C. S., & Cohen, J. D. (2001). Conflict monitoring and cognitive control. Psychological Review, 108(3), 624–652.
MacDonald, A. W., Cohen, J. D., Stenger, V. A., & Carter, C. S. (2000). Dissociating the role of the dorsolateral prefrontal and anterior cingulate cortex in cognitive control. Science, 288(5472), 1835–1838.
Gratton, G., Coles, M. G. H., & Donchin, E. (1992). Optimizing the use of information: Strategic control of activation of responses. Journal of Experimental Psychology: General, 121(4), 480–506.
Klein, G. S. (1964). Semantic power measured through the interference of words with color-naming. The American Journal of Psychology, 77(4), 576–588.